HKBP Yogyakarta,

Suatu Renungan Khusus, Minggu Pentakosta,

31 Mei 2020

INTI PENTAKOSTA: ROH KUDUS BEKERJA

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar yang saya hormati, di mana pun berada pada Minggu Pentakosta ini. Kiranya kita tetap berpengharapan dan percaya akan penyertaan, pertolongan, dan belas-kasih TUHAN. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai dan merajai kita. Marilah kita terus belajar bersyukur kepada TUHAN yang sedang memberi hikmah dan kesadaran yang baru dalam konteks wabah covid-19 yang - terserah TUHAN kapan pandemi ini mereda dan berakhir. Namun, serangkaian  pengajaran yang lebih penting di balik wabah ini, a.l., hendak mengajak kita supaya: semakin beriman, semakin rendah hati, semakin solider dan bermurah-hati, semakin bersahabat di masa susah dan senang, dan semakin berhati-hati dan peduli kesehatan serta lingkungan hidup.

Saudara/i, Minggu Pentakosta diperingati dan dirayakan sebagai salah satu hari besar bagi umat Kristiani. Secara semantik, istilah PENTAKOSTA (bahasa Yunani) artinya 50 (lima puluh). Dasar hitungannya diacu dari hari kebangkitan Yesus dari maut; 40 hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus naik ke sorga; dan 10 hari kemudian yaitu hari ke-50 adalah Pentakosta. Sesaat sebelum terangkat ke sorga, Yesus menjanjikan kepada para murid untuk menerima Roh Kudus - dengan berkata: “.... Kamu akan menerima kuasa (dynamit) kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Karena itu, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Kis. 1:8; Mark. 16:15). Pada hari pentakosta, Allah bersama Yesus menggenapi janji-Nya dengan mengutus/mencurahkan Roh Kudus yang kemudian memampukan orang beriman untuk bersaksi, bersekutu, dan melayani seturut Firman Tuhan (Yoel 2:28-29; Yoh. 14:15-26; Kis. 1:8). Jadi, inti pokok peringatan dan perayaan Minggu Pentakosta adalah ROH KUDUS. Gereja hadir dan bertumbuh adalah karena kuasa Roh Kudus.

Saudara-saudari, mengenai peristiwa Pentakosta pertama di Yerusalem, Alkitab mencatat bahwa ketika Roh Kudus dicurahkan kepada 12 murid, maka mereka kemudian dimampukan berkata-kata dalam ‘bahasa-bahasa lain’ (glossolalia) yaitu mengenai perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah. Para pendengar yang hadir pada waktu itu ada sekitar 15 suku bangsa yang dapat mengerti dalam bahasa mereka masing-masing dan tercengang. Dalam peristiwa tersebut, Roh Kudus bertindak semacam ‘penerjemah’ kepada pendengar untuk memahami perihal karya agung Allah. Itu berarti ketika Roh Kudus dicurahkan dan berkarya, maka umat yang tadinya tidak mengerti mengenai perbuatan besar Allah jadinya mengerti dalam bahasa dan pergumulan masing-masing; dan bukan sebaliknya membuat umat pingsan atau terjatuh ke belakang.  Sejak peristiwa Pentakosta di Yerusalem, maka semua bahasa jadinyasetarasebagai sarana untuk memberitakan Injil (Kis. 2:1-21). Itu makanya, Alkitab diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain Bibel bahasa Batak. Bila dalam peristiwa menara Babel, Allah ‘mengacaukan bahasa manusia’ (Kej. 11:7), maka dalam peristiwa Pentakosta, Allah ‘mempersatukan bahasa manusia’ karena karya Roh Kudus (Kis. 2:1-12). Inti pengajaran melalui bahasa Roh Kudus yang disampaikan kepada manusia adalah mengenai belas-kasih dan perbuatan hebat Allah di dalam nama Yesus Kristus, Jurus’lamat. 

Saudara-saudari, siapakah Roh Kudus? Roh Kudus adalah Allah sendiri, perwujudan-nyata dari kehadiran dan kegiatan Allah yang terus-menerus di dunia dan di antara manusia. Roh Kudus merupakan  lanjutan penyertaan TUHAN bagi umat beriman di dunia ini sampai akhir. Roh Kudus – yang juga disebut sebagai Roh Penghibur, Roh Penolong dan Pengajar dalam kebenaran (Yoh. 14:15-26) -  terus berkarya secara tak terbatas di dunia ini.  Roh Kudus yang dikaruniakan itu telah berkarya dan berperan sudah sejak proses penciptaan alam semestatermasuk dalam penciptaan manusia (Kej. 1:2; 2:7; Ayub 33:4). Dengan cara-Nya, Roh Kudus terus bekerja, kapan dan di mana saja bahkan dengan siapa/apa saja, melampaui ruang dan waktu serta menembusi sekat-sekat primordial dan eksklusivitas. Supaya nantinya dunia ini dapat merasakan arti oikumene sejati, arti kesatuan bersama umat dan semesta karena Kristus. Dan bulan Mei 2020 ini, secara khusus kita mengingat dan merayakan 70 tahun gerakan oikumene bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.

Saudara-saudari, marilah kita secara baru memohon dan menerima Roh Kudus untuk menaungi  kita dari atas, menuntun dari samping, dan juga mendukung dari dalam hati kita bersama orang beriman supaya kita dimampukan menjadi saksi Yesus untuk memberitakan Injil, semampu dan sekuat kita, sekarang dan di sini, di lingkungan kita, di Indonesia dan dunia, melalui kata atau perbuatan, atau melalui sarana komunikasi teknologi digital, termasuk di era pandemi covid-19 ini bahkan di era the new normal, next normal dan post-normal yang memanggil kita untuk berubah dan mengubah keadaan menjadi kesempatan emas untuk semakin tanggap dan kreatif dalam bersekutu, bersaksi, dan melayani dengan mengandalkan kuasa Roh Kudus yang memberi kita kekebalan (imunitas) rohani dan jasmani. Salam Minggu Pentakosta. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia serta bangsa-bangsa di dunia. Amen. *AAZS*   hkbpjogja.org

HKBP Yogyakarta,

Suatu Renungan Khusus, Minggu Pentakosta,

09 Juni 2019

INTI PENTAKOSTA: ROH KUDUS BEKERJA

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar yang saya hormati, di mana pun berada pada Minggu Pentakosta ini. Kiranya kita tetap berpengharapan dan percaya akan penyertaan, pertolongan, dan belas-kasih TUHAN. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai dan merajai kita. Marilah kita terus belajar bersyukur kepada TUHAN yang sedang memberi hikmah dan kesadaran yang baru dalam konteks wabah covid-19 yang - terserah TUHAN kapan pandemi ini mereda dan berakhir.

HKBP Yogyakarta,

Suatu Renungan Khusus, Minggu Pentakosta,

09 Juni 2019

INTI PENTAKOSTA: ROH KUDUS BEKERJA

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar yang saya hormati, di mana pun berada pada Minggu Pentakosta ini. Kiranya kita tetap berpengharapan dan percaya akan penyertaan, pertolongan, dan belas-kasih TUHAN. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai dan merajai kita. Marilah kita terus belajar bersyukur kepada TUHAN yang sedang memberi hikmah dan kesadaran yang baru dalam konteks wabah covid-19 yang - terserah TUHAN kapan pandemi ini mereda dan berakhir. Namun, serangkaian  pengajaran yang lebih penting di balik wabah ini, a.l., hendak mengajak kita supaya: semakin beriman, semakin rendah hati, semakin solider dan bermurah-hati, semakin bersahabat di masa susah dan senang, dan semakin berhati-hati dan peduli kesehatan serta lingkungan hidup.

Saudara/i, Minggu Pentakosta diperingati dan dirayakan sebagai salah satu hari besar bagi umat Kristiani. Secara semantik, istilah PENTAKOSTA (bahasa Yunani) artinya 50 (lima puluh). Dasar hitungannya diacu dari hari kebangkitan Yesus dari maut; 40 hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus naik ke sorga; dan 10 hari kemudian yaitu hari ke-50 adalah Pentakosta. Sesaat sebelum terangkat ke sorga, Yesus menjanjikan kepada para murid untuk menerima Roh Kudus - dengan berkata: “.... Kamu akan menerima kuasa (dynamit) kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Karena itu, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Kis. 1:8; Mark. 16:15). Pada hari pentakosta, Allah bersama Yesus menggenapi janji-Nya dengan mengutus/mencurahkan Roh Kudus yang kemudian memampukan orang beriman untuk bersaksi, bersekutu, dan melayani seturut Firman Tuhan (Yoel 2:28-29; Yoh. 14:15-26; Kis. 1:8). Jadi, inti pokok peringatan dan perayaan Minggu Pentakosta adalah ROH KUDUS. Gereja hadir dan bertumbuh adalah karena kuasa Roh Kudus.

Saudara-saudari, mengenai peristiwa Pentakosta pertama di Yerusalem, Alkitab mencatat bahwa ketika Roh Kudus dicurahkan kepada 12 murid, maka mereka kemudian dimampukan berkata-kata dalam ‘bahasa-bahasa lain’ (glossolalia) yaitu mengenai perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah. Para pendengar yang hadir pada waktu itu ada sekitar 15 suku bangsa yang dapat mengerti dalam bahasa mereka masing-masing dan tercengang. Dalam peristiwa tersebut, Roh Kudus bertindak semacam ‘penerjemah’ kepada pendengar untuk memahami perihal karya agung Allah. Itu berarti ketika Roh Kudus dicurahkan dan berkarya, maka umat yang tadinya tidak mengerti mengenai perbuatan besar Allah jadinya mengerti dalam bahasa dan pergumulan masing-masing; dan bukan sebaliknya membuat umat pingsan atau terjatuh ke belakang. Sejak peristiwa Pentakosta di Yerusalem, maka semua bahasa jadinyasetarasebagai sarana untuk memberitakan Injil (Kis. 2:1-21). Itu makanya, Alkitab diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain Bibel bahasa Batak. Bila dalam peristiwa menara Babel, Allah ‘mengacaukan bahasa manusia’ (Kej. 11:7), maka dalam peristiwa Pentakosta, Allah ‘mempersatukan bahasa manusia’ karena karya Roh Kudus (Kis. 2:1-12). Inti pengajaran melalui bahasa Roh Kudus yang disampaikan kepada manusia adalah mengenai belas-kasih dan perbuatan hebat Allah di dalam nama Yesus Kristus, Jurus’lamat. 

Saudara-saudari, siapakah Roh Kudus? Roh Kudus adalah Allah sendiri, perwujudan-nyata dari kehadiran dan kegiatan Allah yang terus-menerus di dunia dan di antara manusia. Roh Kudus merupakan  lanjutan penyertaan TUHAN bagi umat beriman di dunia ini sampai akhir. Roh Kudus – yang juga disebut sebagai Roh Penghibur, Roh Penolong dan Pengajar dalam kebenaran (Yoh. 14:15-26) - terus berkarya secara tak terbatas di dunia ini. Roh Kudus yang dikaruniakan itu telah berkarya dan berperan sudah sejak proses penciptaan alam semestatermasuk dalam penciptaan manusia (Kej. 1:2; 2:7; Ayub 33:4). Dengan cara-Nya, Roh Kudus terus bekerja, kapan dan di mana saja bahkan dengan siapa/apa saja, melampaui ruang dan waktu serta menembusi sekat-sekat primordial dan eksklusivitas. Supaya nantinya dunia ini dapat merasakan arti oikumene sejati, arti kesatuan bersama umat dan semesta karena Kristus. Dan bulan Mei 2020 ini, secara khusus kita mengingat dan merayakan 70 tahun gerakan oikumene bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.

Saudara-saudari, marilah kita secara baru memohon dan menerima Roh Kudus untuk menaungi  kita dari atas, menuntun dari samping, dan juga mendukung dari dalam hati kita bersama orang beriman supaya kita dimampukan menjadi saksi Yesus untuk memberitakan Injil, semampu dan sekuat kita, sekarang dan di sini, di lingkungan kita, di Indonesia dan dunia, melalui kata atau perbuatan, atau melalui sarana komunikasi teknologi digital, termasuk di era pandemi covid-19 ini bahkan di era the new normal, next normal dan post-normal yang memanggil kita untuk berubah dan mengubah keadaan menjadi kesempatan emas untuk semakin tanggap dan kreatif dalam bersekutu, bersaksi, dan melayani dengan mengandalkan kuasa Roh Kudus yang memberi kita kekebalan (imunitas) rohani dan jasmani. Salam Minggu Pentakosta. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia serta bangsa-bangsa di dunia. Amen. *AAZS*   hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form