3 Sola, 1 Solo, dan 1 Soli

HKBP Yogyakarta Online,
Suatu Renungan Khusus
Peringatan/Perayaan Reformasi Gereja (1517-2019)  -  
Minggu, 27 Oktober 2019

3 Sola, 1 Solo, dan 1 Soli

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dalam lingkungan Gereja Reformasi (Gereja Protestan), bulan Oktober dikaitkan dengan sebentuk peringatan dan perayaan Reformasi Gerejawi yang berhubungan dengan sejarah awal munculnya Gereja Reformasi yakni dengan peristiwa historis tanggal 31 Oktober 1517 di Jerman. Yaitu tatkala Martin Luther (1483-1546), dkk., menggagas dan menancapkan semangat pembaruan (roh reformasi) dengan Firman TUHAN sebagai dasar untuk membarui dan memurnikan ajaran Gereja. Inti ajaran khas Martin Luther (Lutheranisme) – yang juga dianut oleh Gereja HKBP - adalah: (1) Sola Fide atau pembenaran oleh iman saja kepada Allah (tidak oleh pekerjaan baik); (2) Sola Gratia atau pembenaran oleh anugerah Allah saja; (3) Sola Scriptura atau hanya Alkitab (dan bukan tradisi manusia) yang merupakan norma iman yang berwibawa; (4) Solo Christo atau hanya di dalam peristiwa Yesus Kristus saja hal itu genap; dan (5) Soli Deo Gloria atau hanya untuk kemuliaan Allah saja. (Roma 1:17; Ef. 2:8-9; Hab. 2:4; Ibrani 4:12; 2 Tim 3:16-17; Yes. 55:8-11; Yoh. 14:6; Konfesi HKBP 1996 pasal 2). Inti ajaran tersebut di atas, sekiranya dapat kita sebut jargonnya dengan istilah: 3 Sola, 1 Solo, dan 1 Soli.
     Dalam rangka merawat semangat Reformasi Gerejawi, Martin Luther mengusung suatu motto yakni: Ecclesia Reformata Semper Reformanda Est (Gereja Reformasi adalah yang Senantiasa Mereformasi Diri) yang kemudian hendak menegaskan agar Gereja Reformasi - termasuk di dalamnya Gereja HKBP - mesti selalu membarui diri dan dibarui berdasarkan Firman TUHAN sebagai sumber keselamatan. Sejarah mencatat bahwa kemudian dalam tubuh Gereja Reformasi muncul semangat baru untuk menginjili sampai ke ujung bumi. Dan dengan berkembangnya roh Reformasi/Protestantisme, maka etika dan dinamika sosial makin geliat dan dinamis.
     Berkait dengan Peringatan dan Perayaan 500 Tahun (1517-2017) Reformasi Gereja yang digagas Martin Luther, maka The Lutheran World Federation (Dewan Gereja-gereja Lutheran Dunia) telah mengusung Tema besar, yaitu Liberated by God's Grace (Dibebaskan oleh Anugerah Allah) dengan Sub-Tema: Salvation - Not for Sale; Human Being - Not for Sale; and Creation - Not for Sale (Keselamatan Tidak untuk Diperjual-belikan; Manusia Tidak untuk Diperjual-belikan; dan Ciptaan Tidak untuk Diperjual-belikan). Gereja HKBP Yogyakarta secara khusus telah turut merayakannya, antara lain melalui ibadah dan aksi sosial; dan juga menggelar sebentuk konser pada tanggal 6 Oktober 2017 dengan Linda Sitinjak sebagai conductor. Kehadiran Gereja di dunia ini hendaknya memberi manfaat yang relevan bagi lingkungan dengan menghadirkan syalom (damai dengan Allah, sesama, dan alam) dan sebentuk ‘kesembuhan’ dalam kehidupan sosial. Mari berdoa dan berkarya supaya kehadiran Gereja tidak basi (out of date), melainkan memberi manfaat dan pembaruan serta menjadi berkat baru bagi dunia yang lebih baik, benar, adil, manusiawi, dan bermartabat.
     Karena itu, saudara-saudari, dengan peringatan dan perayaan 502 Tahun Reformasi Gerejawi pada bulan Oktober 2019 ini, marilah kita: (a) Menghayati Sabda TUHAN yang intinya mengajak supaya kita hidup mengandalkan iman dan anugerah (rahmat) berdasarkan Firman Allah dalam Yesus Kristus; (b) Meningkatkan semangat pembaruan (tondi haimbaruon) yang berkelanjutan dalam kehidupan bergereja yang diinspirasi dan diakarkan pada kebenaran dan kuasa Firman TUHAN dan bukan pada tradisi manusia; (c) Menerjemahkan, menafsirkan, dan melaksanakan pesan-pesan inti ajaran Gereja Reformasi dalam bahasa sehari-hari di tengah realitas dunia yang majemuk yang sedang menghadapi tantangan sektarianisme/radikalisme/kekerasan atas nama agama, ketidak-adilan, krisis ekologis, dan kepalsuan (hoax). Salam pembaruan. *AAZS*

wajah web201903

Login Form