Sehati Sepikir di dalam TUHAN

HKBP Yogyakarta Online,
Renungan Minggu XX Trinitatis, 1 November 2019

Sehati Sepikir di dalam TUHAN
(Efesus 5:22-33)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Sekiranya dapat dikatakan secara sederhana bahwa isi pokok Alkitab Perjanjian Baru terdiri atas dua bagian utama, yakni: (1) Bagaimana Allah menyelamatkan kita dari dosa dan maut melalui karya penebusan di dalam Kristus yang kita terima melalui iman dengan mengandalkan rahmat-Nya; dan (2) Bagaimana kita sebagai orang beriman menanggapi karya keselamatan itu melalui sebentuk cara hidup baru.
Surat Efesus – dan juga Surat Kolose sebagai “kembarannya” - antara lain membantu kita memahami dan menghayati dua bagian tersebut di atas. Pasal 1--3 secara ringkas mengajar kita mengenai bagian yang pertama; sementara pasal 4--6 mengajak kita untuk menanggapi anugerah keselamatan itu melalui cara hidup baru yang penampilannya sebagai ‘anak-anak terang’ yang sudah ditebus di dalam Kristus. Istilah ‘di dalam Kristus’ sangat menonjol karena muncul sebanyak 35 kali dalam surat Efesus yang berisi 6 pasal. Hal ini berarti bahwa penebusan wajib dihubung-hubungkan dengan karya keselamatan di dalam Yesus Kristus; bahwa ‘di luar Yesus Kristus tidak ada keselamatan’. Yesus pernah bersabda: ‘Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’ (Yoh. 14:6). Tujuan karya penebusan adalah supaya umat yang beriman dipersatukan di dalam Yesus Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang ada di sorga maupun yang ada di bumi (Ef. 1:10). Yesus Kristus adalah pusat wahyu dan Sabda Allah yang menyelamatkan umat beriman dan semesta.
Secara khusus, nas acuan renungan ini mengajak orang beriman - khususnya pasangan suami-istri dalam perkawinan kudus supaya memiliki sebentuk ‘cara hidup baru yang didasarkan pada kasih/cinta (agape) dari Kristus dan pengorbanan-Nya. Dengan dasar agape, maka suami hendaknya mengasihi istrinya sama seperti Kristus lebih dahulu mengasihi jemaat dan berkorban demi jemaat. Dengan dasar agape, hendaknya istri taat kepada suami seperti kepada TUHAN, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah Kepala jemaat (Ef 5:22-23). Pada titik ini, mari kita perhatikan bahwa Kristus adalah pusat dalam kehidupan suami-istri dan keluarga. Bahkan anak-anak diminta menaati orangtua karena Tuhan (Ef 6:1). Dalam merawat perkawinan, kasih (agape) dari Allah adalah pengikat yang paling sempurna. Dan pasangan suami-istri hendaknya sehati sepikir karena dan di dalam TUHAN. Pada mulanya, Allahlah yang menetapkan perkawinan di antara manusia dan menjadi salah satu anugerah tertua pemberian Allah sebelum manusia jatuh kedalam dosa. Pesan ini ditekankan dalam rangkaian teologi liturgi/ibadah pemberkatan perkawinan di Gereja HKBP. Secara teologis, ‘hubungan suami-istri memiliki rahasia besar’ - tetapi yang dimaksukan kemudian – kata Paulus – adalah hubungan antara Kristus dan jemaat (Ef. 5:31-32).
Karena itu, sebagai orang-orang yang ditebus, dikuduskan, dan dikasihi oleh Allah, marilah kita menanggapi karya penebusan di dalam Yesus dengan: (a) Memelihara cara hidup baru yang kudus, murni, dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef. 1:4; 5:27); (b) Memelihara hidup yang berpadanan dengan panggilan suci menuju kedewasaan penuh di dalam kebenaran dan kekudusan sejati (Ef. 4:1,13,24); (c) Memiliki cara hidup baru di tengah keluarga (suami-istri/anak) dan kehidupan sosial/kerja karena Kristus sebagai pusat dan sumber cinta-kasih dalam merawat kehidupan dan relasi di tengah keluarga dan lingkungan yang diberkati (Ef 5:22 - 6:9). Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form